10 Apr 2007 10:28:39 WIB
Banda Aceh :Beratnya tanggung jawab yang diemban anggota TNI yang bertugas menjaga kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di daerah perbatasan mendapat perhatian serius anggota Komisi I DPR Ali Mochtar Ngabalin (F-BPD). Dalam kunjungan kerja (Kunker) Komisi I ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) 2-5 April 2007, ia menilai diperlukan senjata yang memadai untuk menjaga wilayah perbatasan Indonesia dari ancaman yang suatu waktu datang dari negara tetangga.
“Seluruh angkatan dari tiga matra yang ditempatkan di wilayah perbatasan memang harus di fasilitasi dengan sejumlah alutsista yang memadai,” kata Ali Mochtar Ngabalin.
Menurutnya senjata yang memadai berarti ditinjau dari sarana dan prasarana fleksibilitasnya dapat diandalkan. “Dari sarana dan prasarananya fleksibilitasnya lebih bagus, kemudian paling tidak dengan seluruh sarana dan prasarana yang mereka (prajurit) miliki akan memberikan satu kebanggaan,” ujarnya.
Ali Mochtar menilai meskipun tidak dalam keadaan perang, alutsista (alat utama sistem persenjataan) sebagai sarana pendukung menjadi sangat penting.”Waktu kita mengunjungi Batalyon Dharma Jaya, seluruh persyaratan telah disiapkan,” katanya seraya menambahkan hanya tinggal persoalan teknis pengiriman ke Aceh.
Menurut Ali Mochtar Ngabalin dalam bulan April ini akan ada pengiriman senjata dari Pindad.”Baik SS I dan SS 2 sudah disiapkan Mabes TNI dan sudah kita cek ke Panglima,” ujarnya.
Lebih lanjut Ali Mochtar Ngabalin menilai penanganan perbatasan di wilayah NAD berbeda dengan penaganan di Papua, Kalimantan maupun Sulawesi .”Aceh kan berbatasan dengan lima negara, kerena itu masalahnya lebih kompleks,” jelasnya. Selain itu menurut Ali Mochtar, bencana tsunami yang pernah menimpa NAD menyebabkan pihak TNI harus mengevaluasi kembali seluruh alutsista dan peralatan lain yang dimiliki.
Penanganan wilayah perbatasan di NAD berbeda dengan wilayah perbatasan Indonesia lainnya.”Dalam hal persiapan terkait dengan Aceh sebagai wilayah terdepan dan berbatsan dengan beberapa negara lain,”katanya. Menurut Ali Mochtar Ngabalin, penempatan alutsista di wilayah perbatasan seperti di Banda Aceh, Lhokseumawe dan Sabang menjadi prioritas.
Terkait dengan kebutuhan Angkatan Udara yang bertugas di wilayah perbatasan, Ali Mochtar Ngabalin menjelaskan bahwa hal tersebut akan segera di bicarakan dengan Menteri Pertahanan dan Markas Besar TNI. “Apa yang TNI butuhkan terkait dengan landasan dan pangkalan diwilayah perbatasan harus bisa disediakan,” katanya. (bs)
Fasilitas Alutsista di Perbatasan Perlu di Tingkatkan
Oleh : Riski
Banda Aceh :Beratnya tanggung jawab yang diemban anggota TNI yang bertugas menjaga kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di daerah perbatasan mendapat perhatian serius anggota Komisi I DPR Ali Mochtar Ngabalin (F-BPD). Dalam kunjungan kerja (Kunker) Komisi I ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) 2-5 April 2007, ia menilai diperlukan senjata yang memadai untuk menjaga wilayah perbatasan Indonesia dari ancaman yang suatu waktu datang dari negara tetangga.
“Seluruh angkatan dari tiga matra yang ditempatkan di wilayah perbatasan memang harus di fasilitasi dengan sejumlah alutsista yang memadai,” kata Ali Mochtar Ngabalin.
Menurutnya senjata yang memadai berarti ditinjau dari sarana dan prasarana fleksibilitasnya dapat diandalkan. “Dari sarana dan prasarananya fleksibilitasnya lebih bagus, kemudian paling tidak dengan seluruh sarana dan prasarana yang mereka (prajurit) miliki akan memberikan satu kebanggaan,” ujarnya.
Ali Mochtar menilai meskipun tidak dalam keadaan perang, alutsista (alat utama sistem persenjataan) sebagai sarana pendukung menjadi sangat penting.”Waktu kita mengunjungi Batalyon Dharma Jaya, seluruh persyaratan telah disiapkan,” katanya seraya menambahkan hanya tinggal persoalan teknis pengiriman ke Aceh.
Menurut Ali Mochtar Ngabalin dalam bulan April ini akan ada pengiriman senjata dari Pindad.”Baik SS I dan SS 2 sudah disiapkan Mabes TNI dan sudah kita cek ke Panglima,” ujarnya.
Lebih lanjut Ali Mochtar Ngabalin menilai penanganan perbatasan di wilayah NAD berbeda dengan penaganan di Papua, Kalimantan maupun Sulawesi .”Aceh kan berbatasan dengan lima negara, kerena itu masalahnya lebih kompleks,” jelasnya. Selain itu menurut Ali Mochtar, bencana tsunami yang pernah menimpa NAD menyebabkan pihak TNI harus mengevaluasi kembali seluruh alutsista dan peralatan lain yang dimiliki.
Penanganan wilayah perbatasan di NAD berbeda dengan wilayah perbatasan Indonesia lainnya.”Dalam hal persiapan terkait dengan Aceh sebagai wilayah terdepan dan berbatsan dengan beberapa negara lain,”katanya. Menurut Ali Mochtar Ngabalin, penempatan alutsista di wilayah perbatasan seperti di Banda Aceh, Lhokseumawe dan Sabang menjadi prioritas.
Terkait dengan kebutuhan Angkatan Udara yang bertugas di wilayah perbatasan, Ali Mochtar Ngabalin menjelaskan bahwa hal tersebut akan segera di bicarakan dengan Menteri Pertahanan dan Markas Besar TNI. “Apa yang TNI butuhkan terkait dengan landasan dan pangkalan diwilayah perbatasan harus bisa disediakan,” katanya. (bs)
Artikel lainnya
- Din Syamsuddin Cium Jenazah Istri untuk Terakhir Kali
- Yusril Emoh Lapor Satgas Soal Kasus Sisminbakum
- Ngabalin: Sama Denny Jangan Guru Besar, Tapi Sorban Besar Saja
- Denny Bantah Tolak Debat dengan Ngabalin
- Nasrudin Zulkarnaen, Pelobi Tingkat Tinggi yang Tewas Penuh Kontroversi
- Massa Serahkan Tuntutan ke Sekwilpres
- Ribuan orang dari Gerakan Indonesia Bersih (GIB) terlibat aksi
- GIB Serukan Mosi Tak Percaya Pada SBY
- Ali Mochtar Ngabalin : BKPRMI Bukan Gerakan Terorisme
- Kelakuan Penyelenggara Negara Khianati Pancasila
- Federasi Timur Raya Dideklarasikan
- Ngabalin Kerahkan Pemuda Masjid
- Program 100 Hari SBY Dipertaruhkan Century
- Ngabalin: 3 Nama Berinisial S-B-Y Harus Bertanggungjawab
- Ngabalin: Ruhut Jangan Asal Tuduh


