10 Apr 2008 12:13:55 WIB
Iran : Kerjasama negara-negara di kawasan Timur Tengah dalam berbagai bidang dapat menguatkan solidaritas dan menggagalkan skenario dan tipu daya musuh. Hal itu dikatakan Dr Katib.
Dalam wawancara dengan chanel televisi Islamic Republik of Iran News Networking (IRINN), Dr Katib, pengamat dan pakar masalah Timur Tengah mengatakan, “Kaum arogan dunia selalu berusaha mengeruk keuntungan ekonomi dunia khususnya kawasan Timur Tengah. Mereka sangat rakus terhadap kekayaan eneregi di kawasan.”
“Minyak adalah salah satu kekayaan energi yang diincar Barat lewat cara-cara politiknya. Dan untuk menguasai sumber energi ini, Amerika Serikat (AS) berusaha menciptakan pasar komoditi yang bergantung padanya di kawasan Timur Tengah,” jelasnya.
Seraya menerangkan bahwa penjualan senjata AS kepada negara-negara di kawasan dalam skala besar adalah bukti adanya politik Barat untuk menancapkan hegemoninya di kaIwasan, Dr Katib mengungkapkan, “Membuka pangkalan militer yang besar dan kuat di kawasan, mencegah kejatuhan rezim-rezim sekutu Barat di Timur Tengah, dan menekan sentimen anti rezim-rezim pro barat, adalah bagian dari alasan AS untuk menguasai wilayah Timur Tengah.“
Pakar urusan Timur Tengah ini menyebut persatuan dan solidaritas sebagai strategi jitu dalam menghadapi kerakusan Barat. Katib mengatakan, “Dengan menguatkan solidaritas dan kerjasama di berbagai bidang meliputi budaya, politik dan terlebih lagi ekonomi, negara-negara Arab dapat menggagalkan program AS di kawasan.” Menyinggung safari Presiden AS George W. Bush ke kawasan Timur Tengah baru-baru ini, Dr Katib menandaskan, “Kunjungan ini hanya menghasilkan eskalasi ketegangan dan ketidakamanan di kawasan. AS tidak bersedia mengecam kebrutalan dan kejahatan rezim zionis Israel terhadap rakyat Palestina. Bahkan Menteri Luar Negeri AS menyebut kejahatan itu sebagai hal Israel.”
Pada acara wawancara tersebut, hadir pula Dr Dehqani, pakar Timur Tengah lainnya. Dehqani menyebut seluruh ketidakamanan dan perang di kawasan sebagai fenomena yang terjadi karena agenda AS. Sebab dari ketidakamanan dan tidak adanya persatuan negara-negara Islam, AS dapat memetik keuntungan politik dan ekonomi. Ia menambahkan, “Perang disulut rezim Irak di Iran dan Kuwait juga perang AS di Irak, semuanya terjadi karena skenario AS. Negara arogan itu tahu bahwa negara-negara di kawasan memiliki kekayaan energi. Dengan menguasai energi ini, AS berharap dapat membuat Timur Tengah tergantung pada dirinya, dan pada tahap berikutnya, AS dapat melakukan perang ekonomi melawan Cina dan Eropa.”
Dr Dehqani mengatakan, “Ideologi yang diusung kelompok neo konservatif AS, dukungan mutlak kepada Israel, berlanjutnya hegemoni AS di dunia, semuanya terjadi dengan menggunakan bahasa militer.”
“AS menginginkan tingkat keamanan Teluk Persia yang rendah sehingga membuka peluang bagi kehadiran permanennya secara militer di kawasan. Karena itu, melalui perluasan kerjasama, negara-negara muslim harus berupaya meningkatkan keamanan Teluk Persia. Kawasan ini tidak memiliki masalah keamanan yang serius. Kehadiran pasukan asing dari luar kawasan tidak akan membantu memberikan keamanan bagi kawasan,” jelasnya. Dehqani di bagian lain pernyataannya menyinggung kondisi di Jalur Gaza saat ini dan mengatakan, ”Blokade atas Jalur Gaza bertentangan dengan konvensi 4 Jenewa yang melarang menjadikan warga sipil sebagai sasaran serangan.”
Situasi Timur Tengah Menuntut Negara-negara Islam Bersatu
Oleh :
Iran : Kerjasama negara-negara di kawasan Timur Tengah dalam berbagai bidang dapat menguatkan solidaritas dan menggagalkan skenario dan tipu daya musuh. Hal itu dikatakan Dr Katib.
Dalam wawancara dengan chanel televisi Islamic Republik of Iran News Networking (IRINN), Dr Katib, pengamat dan pakar masalah Timur Tengah mengatakan, “Kaum arogan dunia selalu berusaha mengeruk keuntungan ekonomi dunia khususnya kawasan Timur Tengah. Mereka sangat rakus terhadap kekayaan eneregi di kawasan.”
“Minyak adalah salah satu kekayaan energi yang diincar Barat lewat cara-cara politiknya. Dan untuk menguasai sumber energi ini, Amerika Serikat (AS) berusaha menciptakan pasar komoditi yang bergantung padanya di kawasan Timur Tengah,” jelasnya.
Seraya menerangkan bahwa penjualan senjata AS kepada negara-negara di kawasan dalam skala besar adalah bukti adanya politik Barat untuk menancapkan hegemoninya di kaIwasan, Dr Katib mengungkapkan, “Membuka pangkalan militer yang besar dan kuat di kawasan, mencegah kejatuhan rezim-rezim sekutu Barat di Timur Tengah, dan menekan sentimen anti rezim-rezim pro barat, adalah bagian dari alasan AS untuk menguasai wilayah Timur Tengah.“
Pakar urusan Timur Tengah ini menyebut persatuan dan solidaritas sebagai strategi jitu dalam menghadapi kerakusan Barat. Katib mengatakan, “Dengan menguatkan solidaritas dan kerjasama di berbagai bidang meliputi budaya, politik dan terlebih lagi ekonomi, negara-negara Arab dapat menggagalkan program AS di kawasan.” Menyinggung safari Presiden AS George W. Bush ke kawasan Timur Tengah baru-baru ini, Dr Katib menandaskan, “Kunjungan ini hanya menghasilkan eskalasi ketegangan dan ketidakamanan di kawasan. AS tidak bersedia mengecam kebrutalan dan kejahatan rezim zionis Israel terhadap rakyat Palestina. Bahkan Menteri Luar Negeri AS menyebut kejahatan itu sebagai hal Israel.”
Pada acara wawancara tersebut, hadir pula Dr Dehqani, pakar Timur Tengah lainnya. Dehqani menyebut seluruh ketidakamanan dan perang di kawasan sebagai fenomena yang terjadi karena agenda AS. Sebab dari ketidakamanan dan tidak adanya persatuan negara-negara Islam, AS dapat memetik keuntungan politik dan ekonomi. Ia menambahkan, “Perang disulut rezim Irak di Iran dan Kuwait juga perang AS di Irak, semuanya terjadi karena skenario AS. Negara arogan itu tahu bahwa negara-negara di kawasan memiliki kekayaan energi. Dengan menguasai energi ini, AS berharap dapat membuat Timur Tengah tergantung pada dirinya, dan pada tahap berikutnya, AS dapat melakukan perang ekonomi melawan Cina dan Eropa.”
Dr Dehqani mengatakan, “Ideologi yang diusung kelompok neo konservatif AS, dukungan mutlak kepada Israel, berlanjutnya hegemoni AS di dunia, semuanya terjadi dengan menggunakan bahasa militer.”
“AS menginginkan tingkat keamanan Teluk Persia yang rendah sehingga membuka peluang bagi kehadiran permanennya secara militer di kawasan. Karena itu, melalui perluasan kerjasama, negara-negara muslim harus berupaya meningkatkan keamanan Teluk Persia. Kawasan ini tidak memiliki masalah keamanan yang serius. Kehadiran pasukan asing dari luar kawasan tidak akan membantu memberikan keamanan bagi kawasan,” jelasnya. Dehqani di bagian lain pernyataannya menyinggung kondisi di Jalur Gaza saat ini dan mengatakan, ”Blokade atas Jalur Gaza bertentangan dengan konvensi 4 Jenewa yang melarang menjadikan warga sipil sebagai sasaran serangan.”
Artikel lainnya
- Din Syamsuddin Cium Jenazah Istri untuk Terakhir Kali
- Yusril Emoh Lapor Satgas Soal Kasus Sisminbakum
- Ngabalin: Sama Denny Jangan Guru Besar, Tapi Sorban Besar Saja
- Denny Bantah Tolak Debat dengan Ngabalin
- Nasrudin Zulkarnaen, Pelobi Tingkat Tinggi yang Tewas Penuh Kontroversi
- Massa Serahkan Tuntutan ke Sekwilpres
- Ribuan orang dari Gerakan Indonesia Bersih (GIB) terlibat aksi
- GIB Serukan Mosi Tak Percaya Pada SBY
- Ali Mochtar Ngabalin : BKPRMI Bukan Gerakan Terorisme
- Kelakuan Penyelenggara Negara Khianati Pancasila
- Federasi Timur Raya Dideklarasikan
- Ngabalin Kerahkan Pemuda Masjid
- Program 100 Hari SBY Dipertaruhkan Century
- Ngabalin: 3 Nama Berinisial S-B-Y Harus Bertanggungjawab
- Ngabalin: Ruhut Jangan Asal Tuduh


