25 Nov 2008 16:06:11 WIB

Menhan: Media Asing Terlalu Terobsesi CIA

Oleh : Zulhefi

Beredarnya buku karangan Tim Weiner berjudul "Membongkar Kegagalan CIA", dimana dalam buku tersebut disebutkan bahwa bekas Menlu Adam Malik adalah salah satu agen CIA.

Menanggapi hal itu, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono menyatakan, media massa di AS dan Eropa banyak terobesesi tentang keterlibatan CIA di dalam persoalan politik dan konflik di suatu negara. Di Indonesia sendiri, tidak hanya Adam Malik, Muhammad Hatta (Bung Hatta) pun pernah dituding sebagai provokator pemberontakan PKI tahun 1948.

"Terlalu banyak kontroversi di masa lampau yang sering diungkap oleh orang atau kalangan media massa barat di seluruh dunia. Saya ingat, dulu Bung Hatta juga pernah dituduh sebagai provokator, memancing pemberontakan PKI pada tahun 1948. Saya kira spekulasi," kata
Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono usai menerima Menhan RRC Jenderal Chi Wanchung di kantornya Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta,
Senin (24/11).

Namun menurut Juwono, kesemuanya itu adalah hal yang sangat spekulatif dan tidak benar. "Ini kan industri media tentang masalah kontroversial selalu ada di Amerika Utara (AS) dan Eropa, selalu ada obesesi tentang adanya peranan CIA. Mereka kurang memperhitungkan kejadian-kejadian di seluruh dunia seperti di Afrika, Amerika Latin
dan Asia. Itu sebenarnya masalah dalam negeri masing-masing,"
jelasnya.

Terkait peristiwa 1965, diakui Juwono saat ini sudah ada enam versi buku yang mengungkap hak itu, baik yang ditulis kalangan kampus maupun sejarawan dan para pensiunan kalangan kampus dan penulis luar negeri dan CIA sendiri. Waktu dirinya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan sepuluh tahun lalu telah meminta para sejarawan untuk merevisi seluruh pelajaran sejarah Indonesia mulai dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi untuk diluruskan.

"Dulu zaman Soekarno banyak yang disisihkan tentang masa lampau,
dulu zaman Seokarno dulu banyak yang para tokoh-tokoh yang melawan beliau. Begitu, tentang peran tokoh-tokoh yang lawan beliau, juga Pak Harto, jasa-jasa Bung Karno dipinggirkan," ungkapnya.

Oleh sebab itu Juwono meminta kepada para sejarawan, termasuk Anhar Gonggong untuk membuat kerangka sejarah yang lebih berimbang. "Sehingga kita tidak lagi menafikan Soekarno, Soeharto dan tokoh lainnya
sampai Presiden Habibie," ujarnya.

Banyaknya versi sejarah memang akan menjadi pertanyaan tentang nilai kebenarannya. Karena menurut Juwono, sejarawan juga memiliki
mazhab-mazhab dan seleranya.

"Tapi saya katakan dulu, tolong sejarawan yang beragam mazhab itu lebih berwawasan nasional dan lebih memilih peristiwa
lainnya, tidak jawa sentris lagi," ungkap Juwono


Artikel lainnya