18 Feb 2009 22:59:06 WIB

Sulsel, Provinsi Agroindustri Terkemuka

Oleh : N Ikawidjaja, Konsultan

Pada Forum Dialog Ekonomi: Ekonomi Global dan Pengaruh terhadap Kawasan Timur Indonesia pada tanggal 8 Desember 2008 dengan pembicara Dr Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulsel), Dr Aviliani (pengamat ekonomi/ekonom INDEF), Erwin Aksa (Ketua Umum Hipmi) dan Murad Husain (pengusaha agribisnis) serta moderator Dr Marsuki, DEA, telah diulas dan dimuat beberapa hari berturut-turut oleh media lokal tentang isi dialog dimaksud. Namun dari ulasan tersebut terdapat hal penting yang luput dan belum dipaparkan oleh wartawan yaitu arah pengembangan Sulawesi Selatan menjadi sentra produk pertanian, di antaranya pemasok utama komoditas pertanian sebagai subtitusi impor, antara lain kedelai dan jagung.

Secara terfokus adalah menjadikan Sulsel sebagai provinsi industri pertanian (agroindustri) terkemuka di Indonesia. Ini titik strategis dan penting yang dipaparkan oleh Gubernur Sulsel pada forum itu.

Perubahan Budaya Pertanian

Pemikiran menjadi provinsi agroindustri sudah lama menjadi cita-cita masyarakat Sulsel, terhitung sejak era Prof Amiruddin sebagai Gubernur Sulsel. Pertanyaannya, mengapa hal itu belum terwujudkan hingga saat ini?

Berbagai faktor dapat dikemukakan untuk menjawab "mengapa belum terwujudkan", di antaranya adalah secara kolektif, kita belum mencapai keseimbangan untuk membangun bersama-sama budaya dan mind set (pola pikir) sebagai masyarakat industri. Budaya dan mind set pada subsektor pertanian saat ini di Sulsel masih berkutat pada budaya primer (hulu, on farm) belum bertranformasi secara intensif pada budaya sekunder (hilir, off farm).

Adapun budaya hilir hanya kuat pada sektor perdagangan belum mencapai budaya pengolahan hasil panen pertanian. Pengembangan budidaya pertanian selam ini seyogianya harus diimbangi dengan pertumbuhan industri pengolahan berbasis pertanian. Semua pelaku hulu hilir memberikan kontribusi dalam membangun budaya industri.

Pada budaya primer masih mengedepankan proses produksi dan pemasaran produk dalam bentuk glondongan (raw material) sehingga petani belum banyak memperoleh nilai tambah serta kepemilikan daya tawar yang rendah.

Dengan cara menjual produk primer lebih banyak dari provinsi ke luar (ekspor) akan memberikan nilai tambah hanya kepada negara lain. Sebaliknya, mengolah lebih dahulu semua komoditas pertanian dari produk primer menjadi produk sekunder akan memberikan nilai tambah yang nyata kepada Provinsi Sulsel.

Budaya primer hingga saat ini belum mampu meningkatkan secara signifikan Nilai Tukar Petani (NTP) yang tinggi. NTP adalah indikator pengukuran daya beli petani dengan membandingkan antara indeks harga yang diterima dan dibayar oleh petani untuk keperluan rumah tangga serta produksi pertanian.

NTP merupakan indikator statistik untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani Indonesia. Saat ini secara nasional NTP agregat sebesar 98,36 dari skala maksimum 100, ini bermakna masih rendahnya kesejahteraan petani.

Dalam praktik mengembangkan budaya sekunder (hilir) perlu upaya tekun yang terus-menerus untuk mendorong dan memasilitasi secara kolektif para pelaku bisnis subsektor pertanian dalam melakukan transformasi dari pendekatan produksi ke pendekatan bisnis agroindustri. Orientasi pendekatan bisnis agroindustri diarahkan suatu pencapaian jangka menengah dan panjang dengan cara menciptakan pengolahan bahan baku menjadi produk olahan setengah jadi dan akhirnya menjadi produk final.

Untuk jangka menengah selama lima tahun ke depan, Provinsi Sulsel dapat memokuskan produk pertanian berupa olahan setengah jadi. Berbagai komoditas unggulan Sulsel sudah layak agar lebih diintensifkan sebagai klaster industri pengolahan setengah jadi, di antaranya beras, jagung, rumput laut, bandeng, kakao, kelompok umbi-umbian, perikanan laut, kelapa dan lain sebagainya. Inilah bagian strategis pada impelementasi dari kebijakan revitalisasi pertanian.

Relokasi Agroindustri

Momentum pengembangan klaster agroindustri pengolahan produk pertanian mampu menjadi dukungan kuat bagi Sulsel sebagai wilayah relokasi industri dari Kawasan Barat Indonesia ke Kawasan Timur Indonesia.

Bertahun-tahun para investor agroindustri berinvestasi mendekati pasar yaitu membangun pabrik di daerah Pulau Jawa. Kini dengan semakin sempitnya lahan pertanian di Jawa maka peluang besar untuk menawarkan dan memasilitasi para investor bergerak mendekati sumber daya alam (SDA) yakni di Sulsel.

Sulsel secara relatif memiliki infrastruktur agroindustri yang lebih baik dibandingkan provinsi lainnya, di antaranya ketersediaan listrik yang cukup dan pelabuhan ekspor yang bagus. Petani Sulsel lebih rajin, terampil dan terbuka dalam menerima perubahan sebagai masyarakat agroindustri. Melalui pendekatan relokasi agroindustri maka dimungkinkan penguatan kebijakan pemerintah pusat untuk menjadikan Sulsel sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) agroindustri.

Cross Fertilization Budget

Dalam mengembangkan agroindustri lebih lanjut maka dibutuhkan upaya ekstra untuk menarik investor ke Sulsel. Kini perilaku dan mind set investor telah berubah. Jika dahulu secara langsung membawa modal, tenaga ahli, peralatan dan lain sebagainya ke wilayah investasi dan bertindak sebagai pemain utama.

Kini investor cenderung untuk memosisikan sebagai partner pelengkap (complement investor) dengan pengusaha setempat. Mereka mengidentifikasi dengan hati-hati, kemudian berkolaborasi melalui mekanisme pertautan dana (cross fertilization budget) dengan pengusaha setempat (local champion). Local champion adalah para pengusaha lokal yang dinilai sukses dan telah lama menggeluti bisnis pertanian.

Investor tertarik bekerja sama dengan pertimbangan bahwa para local champion mampu berbagi informasi harga-harga dan biaya setempat terkait pengembangan agroindustri, misalnya harga tanah, listrik, air, biaya perizinan/hukum dan lainnya. Dengan kerja sama ini investor mendapatkan harga yang wajar untuk memulai investasi langsung pada agroindustri.

Asosisasi komoditas pertanian dengan kemudahan dari fasilitas pemerintah daerah mempromosikan para local champion yang dinilai layak didorong untuk berekspansi pada agroindustri melalui kerja sama dengan investor representatif. Strategi demikian mampu mengoptimalkan para local champion yang berada di daerah-daerah.

Deregulasi Agroindustri

Hambatan-hambatan dalam pengembangan agroindutri harus dikurangi. Praktik selama ini sering kali banyak kebijakan yang menetapkan berbagai biaya-biaya "kemahalan" untuk proses investasi di daerah-daerah sehingga mengurangi daya tarik untuk berinvestasi. Pengurangan hingga penghapusan biaya-biaya serta kemudahan lainnya akan memberi dampak positif bagi kerja sama antara local champion dan investor representatif.

Daerah akan menerima banyak manfaat dengan deregulasi agroindustri yaitu bertambahnya peluang kerja bagi masyarakat setempat sehingga pada akhirnya meningkatkan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat pada jangka panjang (trade off).

Perbankan Agroindustri

Perbankan daerah menjadi bagian strategis dalam percepatan pengembangan agroindustri di Sulsel. Melalui wahana kerja sama antara asosiasi komoditas pertanian, pemerintah dengan perbankan dilakukan pemetaan bersama agroindustri yang layak dibiayai. Pembiayaan diperuntukkan mulai dari skala industri rumah tangga, kecil dan menengah (UMKM).

Adanya forum pertemuan bisnis secara reguler dan intensif akan memudahkan wujud pembiayaan perbankan kepada para local champion dan investor representatif di Provinsi Sulsel. Secara kolektif kita segera bekerja tanpa menunda-nunda lagi mewujudkan Sulsel sebagai provinsi agroindustri terkemuka di Indonesia! (*)

Oleh: N Ikawidjaja, Konsultan

Source : Harian Fajar


Artikel lainnya