13 Mar 2009 11:29:06 WIB
Penantian Ayah dari Korban Penyanderaan di Somalia (2-selesai)
DEPARTEMEN Luar Negeri hanya sekali mengontak keluarga korban. Pernyataan klasik, keluarga diminta bersabar.TIDAK adanya kabar dari pihak Departemen Luar Negeri RI terkait perkembangan upaya pembebasan sandera dari tangan kelompok bersenjata di Somalia, membuat hati Abdul Rasyid masygul. Namun, sampai saat ini, dia tidak pernah berhenti berharap.
Butir-butir air mata Rasyid, ayah Bohari Muslim, salah seorang korban penyanderaan, terus mengalir, saat saya menemuinya di sudut musala salah satu bank di Perumnas Antang, Manggala, Selasa siang, 10 Maret.
Suara azan membuat derai air mata lelaki itu semakin deras. "Saya sangat berharap pemerintah RI tidak tinggal diam," ujar Rasyid dengan suara bergetar.
Rasyid mengaku pernah dihubungi via telepon oleh salah seorang pejabat dari Deplu bernama Komar, pada awal-awal anaknya disandera. Saat itu, kata Rasyid, pejabat bernama Komar itu terus meminta pihak keluarga bersabar.
Namun kontak dengan pihak Deplu hanya sekali itu. Rasyid berharap pihak Deplu tetap berusaha menyelamatkan anaknya beserta sepuluh rekannya.
Kontak Rasyid dengan anaknya Bohari juga berakhir Februari lalu. Hal itu membuat ibu Bohari, Nursia sangat shok. Apalagi nomor telepon selular anaknya sudah tidak aktif.
"Kalau ada deringan telepon, ibunya selalu berlomba dengan adik-adik Bohari untuk mengangkatnya. Mereka berharap itu kabar baik dari Bohari," kata Rasyid.
Di mata keluarga, Bohari adalah anak yang sangat sabar. Bohari juga, kata Rasyid, anak yang sangat bertanggung jawab dan punya kepedulian tergadap keluarganya. Sejak bekerja di Masindra 7, alumni SMAN 3 Takalar itu, rutin mengirimkan sebagian gajinya untuk ibunya. Sebagai anak tertua, Bohari, lanjut Rasyid, merupakan tumpuan keluarga.
Sementara itu, pihak Deplu sebagaimana dikutip di situs Majalah Tempo mengatakan, pemerintah Indonesia tidak akan melakukan upaya negosiasi apa pun dengan perompak asal Somalia yang membajak Masindra 7, kapal tunda milik perusahaan Malaysia.
"Perompak sudah berbicara dengan pemilik kapal, namun belum ada pembicaraan tentang tebusan. Pada prinsipnya, Indonesia tidak akan bernegosiasi dengan para perompak," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Indonesia, Teuku Faizasyah, seperti dikutip Tempo edisi 19 Desember 2008.
Namun, Faizasyah melanjutkan, pihak Departemen Luar Negeri akan terus memastikan pemilik kapal tersebut bertanggung jawab kepada sebelas anak buah kapal yang semuanya merupakan warga Indonesia.
Faizasyah menambahkan, Deplu juga sudah membentuk crisis centre yang sudah dikoordinasikan kepada pemilik kapal di Malaysia. "Setiap perkembangan terakhir akan segera mereka kabarkan kepada kita," katanya.
Anggota Komisi Luar Negeri DPR RI, Ali Mochtar Ngabalin, yang dihubungi Rabu, 11 Maret, menegaskan, Deplu memang tidak mungkin berbicara langsung untuk negoisasi dengan para perompak. Namun, menurutnya, ada langkah-langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan anak bangsa tersebut.
"Jika tidak ada, berhenti saja jadi pemerintah. Salah satunya kan dengan memanfaatkan jaringan internal. Apalagi kita punya hubungan emosional dengan Somalia," ujar Menteri Luar Negeri Partai Bulan Bintang ini.
Ali mengaku sudah diberitahu terkait adanya warga Sulsel yang menjadi korban. "Insya Allah saya akan membicarakan dengan pemerintah dalam hal ini menteri luar negeri guna membantu anak bangsa yang sedang disandera perompak. Pemerintah juga harus membicarakan hal ini dengan pihak perusahaan Masindra 7 asal Malaysia," tegas Ali.
Masindra 7 dibajak para perompak Somalia pada Selasa, 16 Desember 2008. Saat itu, Masindra 7 yang didaftarkan di Pelabuhan Klang, Selangor, bersama sebuah tongkang sedang berada sekitar 45 mil laut dari pesisir Pantai Yaman. (*)
LAPORAN: ASWAD SYAM, Manggala
Source : Fajar Online
Minta Campur Tangan Pemerintah
Oleh : Fajar Online
Penantian Ayah dari Korban Penyanderaan di Somalia (2-selesai)
DEPARTEMEN Luar Negeri hanya sekali mengontak keluarga korban. Pernyataan klasik, keluarga diminta bersabar.TIDAK adanya kabar dari pihak Departemen Luar Negeri RI terkait perkembangan upaya pembebasan sandera dari tangan kelompok bersenjata di Somalia, membuat hati Abdul Rasyid masygul. Namun, sampai saat ini, dia tidak pernah berhenti berharap.
Butir-butir air mata Rasyid, ayah Bohari Muslim, salah seorang korban penyanderaan, terus mengalir, saat saya menemuinya di sudut musala salah satu bank di Perumnas Antang, Manggala, Selasa siang, 10 Maret.
Suara azan membuat derai air mata lelaki itu semakin deras. "Saya sangat berharap pemerintah RI tidak tinggal diam," ujar Rasyid dengan suara bergetar.
Rasyid mengaku pernah dihubungi via telepon oleh salah seorang pejabat dari Deplu bernama Komar, pada awal-awal anaknya disandera. Saat itu, kata Rasyid, pejabat bernama Komar itu terus meminta pihak keluarga bersabar.
Namun kontak dengan pihak Deplu hanya sekali itu. Rasyid berharap pihak Deplu tetap berusaha menyelamatkan anaknya beserta sepuluh rekannya.
Kontak Rasyid dengan anaknya Bohari juga berakhir Februari lalu. Hal itu membuat ibu Bohari, Nursia sangat shok. Apalagi nomor telepon selular anaknya sudah tidak aktif.
"Kalau ada deringan telepon, ibunya selalu berlomba dengan adik-adik Bohari untuk mengangkatnya. Mereka berharap itu kabar baik dari Bohari," kata Rasyid.
Di mata keluarga, Bohari adalah anak yang sangat sabar. Bohari juga, kata Rasyid, anak yang sangat bertanggung jawab dan punya kepedulian tergadap keluarganya. Sejak bekerja di Masindra 7, alumni SMAN 3 Takalar itu, rutin mengirimkan sebagian gajinya untuk ibunya. Sebagai anak tertua, Bohari, lanjut Rasyid, merupakan tumpuan keluarga.
Sementara itu, pihak Deplu sebagaimana dikutip di situs Majalah Tempo mengatakan, pemerintah Indonesia tidak akan melakukan upaya negosiasi apa pun dengan perompak asal Somalia yang membajak Masindra 7, kapal tunda milik perusahaan Malaysia.
"Perompak sudah berbicara dengan pemilik kapal, namun belum ada pembicaraan tentang tebusan. Pada prinsipnya, Indonesia tidak akan bernegosiasi dengan para perompak," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Indonesia, Teuku Faizasyah, seperti dikutip Tempo edisi 19 Desember 2008.
Namun, Faizasyah melanjutkan, pihak Departemen Luar Negeri akan terus memastikan pemilik kapal tersebut bertanggung jawab kepada sebelas anak buah kapal yang semuanya merupakan warga Indonesia.
Faizasyah menambahkan, Deplu juga sudah membentuk crisis centre yang sudah dikoordinasikan kepada pemilik kapal di Malaysia. "Setiap perkembangan terakhir akan segera mereka kabarkan kepada kita," katanya.
Anggota Komisi Luar Negeri DPR RI, Ali Mochtar Ngabalin, yang dihubungi Rabu, 11 Maret, menegaskan, Deplu memang tidak mungkin berbicara langsung untuk negoisasi dengan para perompak. Namun, menurutnya, ada langkah-langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan anak bangsa tersebut.
"Jika tidak ada, berhenti saja jadi pemerintah. Salah satunya kan dengan memanfaatkan jaringan internal. Apalagi kita punya hubungan emosional dengan Somalia," ujar Menteri Luar Negeri Partai Bulan Bintang ini.
Ali mengaku sudah diberitahu terkait adanya warga Sulsel yang menjadi korban. "Insya Allah saya akan membicarakan dengan pemerintah dalam hal ini menteri luar negeri guna membantu anak bangsa yang sedang disandera perompak. Pemerintah juga harus membicarakan hal ini dengan pihak perusahaan Masindra 7 asal Malaysia," tegas Ali.
Masindra 7 dibajak para perompak Somalia pada Selasa, 16 Desember 2008. Saat itu, Masindra 7 yang didaftarkan di Pelabuhan Klang, Selangor, bersama sebuah tongkang sedang berada sekitar 45 mil laut dari pesisir Pantai Yaman. (*)
LAPORAN: ASWAD SYAM, Manggala
Source : Fajar Online
Artikel lainnya
- Nasrudin Zulkarnaen, Pelobi Tingkat Tinggi yang Tewas Penuh Kontroversi
- Massa Serahkan Tuntutan ke Sekwilpres
- Ribuan orang dari Gerakan Indonesia Bersih (GIB) terlibat aksi
- GIB Serukan Mosi Tak Percaya Pada SBY
- Ali Mochtar Ngabalin : BKPRMI Bukan Gerakan Terorisme
- Kelakuan Penyelenggara Negara Khianati Pancasila
- Federasi Timur Raya Dideklarasikan
- Ngabalin Kerahkan Pemuda Masjid
- Program 100 Hari SBY Dipertaruhkan Century
- Ngabalin: 3 Nama Berinisial S-B-Y Harus Bertanggungjawab
- Ngabalin: Ruhut Jangan Asal Tuduh
- Hendak Berunjuk Rasa, Adhie Massardi Lapor Polda
- Ngabalin: Stop Sogok Menyogok
- Ngabalin: Jalin Komunikasi dengan Pemerintah
- Ngabalin: Jangan bermain-main dengan Amanah


