08 Jun 2009 09:59:10 WIB

Malaysia Tuding Balik Indonesia

Oleh : Fajar Online

JAKARTA -- Pemerintah Malaysia tidak ingin dijadikan satu-satunya pihak yang disalahkan terkait kasus memanasnya masalah perbatasan di Ambalat. Mereka mencatat, Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga telah melakukan pelanggaran perbatasan sebanyak 13 kali.Menteri Pertahanan Malaysia Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi juga siap menyampaikan nota protes ke pemerintah RI. Protes itu disampaikan kepada delegasi Komisi I DPR, Effendy Choirie dan Ali Mochtar Ngabalin.

Kedua pihak bertemu dan melakukan pembicaraan di Putrajaya, Malaysia, Sabtu malam, 6 Juni lalu. Dua anggota dewan itu mendahului rombongan resmi yang baru akan berangkat hari ini, Senin, 8 Juni. Baca Pembahasan Berlangsung Hangat dan Cair, laporan khusus Ali Mochtar Ngabalain untuk Fajar.

“Dia sampaikan TNI kita 13 kali melanggar. Tapi, sebenarnya dia (Menhan Malaysia, red) tidak ingin memperpanjang masalah Indonesia-Malaysia terutama di blok Ambalat,” ungkap Effendy Choirie, Minggu, 7 Juni.

Menurut Effendy, pemerintah Malaysia mengaku bisa memahami kalau pemerintah dan rakyat Indonesia memprotes keras masuknya kapal militer Malaysia ke wilayah Indonesia di Ambalat. Mantan ketua FKB di DPR itu menambahkan, Menhan Ahmad Zahid secara umum memberikan tanggapan positif atas keberatan Indonesia tersebut.

“Dia berjanji akan mempercepat proses penyelesaian sengketa RI-Malaysia,” tambah tokoh yang akrab disapa Gus Choi itu. Meski demikian, pemerintah Malaysia sadar jika jalan keluar penyelesaian tidak akan berlangsung mudah. Sebab, persoalannya bukan hanya sekadar soal perbatasan, tapi juga soal ekonomi.

Menurut Gus Choi, pemerintah Malaysia juga mengaku ingin tetap bertetangga baik dengan Indonesia. “Kami tidak akan berperang dengan Indonesia. Ya, bagaimana kami mau berperang, kalau pakaian tentara diraja Malaysia itu masih produk Sritex Indonesia,” ungkap Gus Choi, menirukan apa yang disampaikan Ahmad Zahid.

Secara terpisah, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen menegaskan, posisi TNI di Ambalat sangat jelas, yakni mengamankan kedaulatan. “Tunjukkan di mana kita melanggar. Kita selalu sesuai prosedur,” katanya.

Menurut Sagom, TNI tidak akan bergeser sejengkalpun dari Ambalat. “Tidak hanya di sana, tapi di seluruh wilayah perbatasan negara. Kita berada di garis terdepan,” katanya. Bahkan, katanya, seluruh satuan TNI baik darat, laut maupun udara siap berperang jika memang ada perintah dari panglima tinggi yakni presiden SBY.

Penegasan komitmen siap perang itu juga disampaikan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso di Istana Negara pada akhir pekan lalu, Sabtu malam, 6 Juni. Usai mendampingi SBY menerima delegasi komisi 1, Djoko menjelaskan operasi rutin sudah dilakukan sepanjang tahun di sekitar Ambalat. “Prinsip TNI adalah kalau kita ingin damai, kita harus siap perang,” katanya.

Perintah perang sesuai undang-undang, diberikan oleh presiden. Begitu komando turun, TNI harus langsung berperang. Dalam dua hari setelah perintah itu, DPR harus memberi persetujuan. Namun, jika tak disetujui, perintah itu harus dihentikan.

Malaysia Juga Siaga

Memanasanya situasi di Ambalat tidak hanya direspons oleh Indonesia. Saat ini, Malaysia juga dilaporkan telah bersiap siaga dalam menghadapi segala kemungkinan terkait memanasnya sengketa Ambalat.

Negeri Jiran itu juga meningkatkan kesiagaan pasukan keamanan, utamanya di wilayah perbatasan. Misalnya di Pos Penjagaan PGA (Polis Gerak Am) yang di Indonesia dikenal dengan nama Brimob di Begusong, perbatasan Indonesia–Malaysia di Pulau Sebatik. Jika biasanya di pos ini dikepalai oleh sersan, saat ini diganti dengan personel berpangkat kapten.

“Kita tahulah situasi sekarang ‘kan macam (agak, red) lain. Mesti ada perubahan,” terang seorang warga Malaysia yang menolak identitasnya dikorankan.

Selain pergantian komandan jaga, pihak keamanan Malaysia juga menambah personel. Jika sebelumnya hanya diperkuat tujuh orang per pos jaga, sekarang sudah ditingkatkan menjadi 10 orang personel.
Saat ini, status pos jaga pun dinaikkan menjadi balai atau kantor.

Salah seorang anggota PGA di Wallace Bay (Pulau Sebatik bagian Malaysia) yang bertemu wartawan Radar Tarakan (Group Fajar) mengatakan, PGA juga telah mendapat pelatihan tempur.

Bukan hanya itu. Seragam personel PGA pun sudah diganti. Jika sebelumnya bermotif loreng warna kombinasi biru hitam, beberapa hari terakhir sudah bermotif loreng kombinasi hijau tua dan hitam. Seragam baru pasukan PGA ini lebih gelap dibanding seragam loreng milik TNI.

“Uniform (seragam) pun tak macam dulu. Sekarang kami gunakan uniform baru. Uniform lama susah nak (mau) disamarkan. Gampang terlihat. Mesti gunakan uniform tersamar,” terang personel PGA yang mengaku baru beberapa bulan terakhir ditugaskan di Pos PGA Wallace Bay. (ade/dyn/jpnn)

Source : Fajar Online


Artikel lainnya