09 Jun 2009 09:56:59 WIB

Pembahasan Ambalat Hangat dan Cair

Oleh : Ali Mocthar Ngabalin

Alhamdulillah kami telah mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu, 7 Juni 2009, tepat pukul. 17.45 WIB.Sebelumnya, bersama saudara Effendy Choirie dari Komisi I DPR RI, dan mantan anggota Komisi I DPR-RI Ade Daud Nasution, kami melakukan kunjungan kerja informal dengan pemerintah Kerajaan Malaysia, khususnya dengan Datuk Seri Achmad Zahid Hamidi, Menteri Pertahanan Malaysia, sebagai pejabat yang paling berwenang dalam masalah Ambalat.

Saat bertemu, beliau didampingi oleh Moh Kamal Bin Abdullah (special tasks officer Minister of defence Malaysia). Selama dua malam, banyak hal yang telah kita sepakati. Di samping persoalan Ambalat, juga menyangkut hal-hal lainnya yang kami bincangkan untuk kejayaan dan kedaulatan kedua negara.

Saat bertemu, saya menyampaikan protes kepada pemerintah Malaysia --melalui Menhan tentu saja—sekaligus meminta agar kapal perang mereka tidak melakukan provokasi di perairan blok Ambalat.

Sebab jika terus melewati garis batas kedaulatan wilayah Indonesia, aparat keamanan kami bisa tidak sabar dan akan menabrak serta menenggelamkan kapal tentara diraja Malaysia.

Dalam kesempatan itu, secara khusus Effendy Choirie juga meminta kepada sahabat lamanya yang baru dua bulan menjabat Menhan Malaysia, tepatnya 8 April 2009, untuk menjadikan jabatannya sebagai sarana mempercepat penyelesaian sengketa antara dua negara serumpun ini. Khususnya, tentu saja soal sengketa blok Ambalat.

Maklum, Menhan Malaysia saat ini adalah keturunan Yogya dan di negeri jiran itu, Menhan termasuk orang penting ketiga.

Datuk Seri Achmad Zahid Hamidi berjanji dengan penuh keyakinan bahwa dalam masa pemerintahan PM Najib Tun Abdul Razak, persoalan Ambalat akan segera selesai. Hal ini juga dapat dibuktikan dengan instruksi beliau agar tentara diraja Malaysia segera melakukan evaluasi kembali mengenai “rondaan biasa” (patroli rutin) agar tidak menimbulkan kemarahan bagi rakyat Indonesia.

Bahkan sesekali Menhan juga memberi penjelasan dalam Bahasa Jawa kepada sdr Effendy Choirie.
Beliau juga menunjukkan keseriusannya atas apa yang kami protes, dengan memerintahkan Panglima
Angkatan Perang Tentara Diraja Malaysia untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut dengan pemerintah/panglima TNI di Jakarta, 9 Juni 2009 di Jakarta.

Alhamdulillah, syukur kepada Allah swt, pendekatan kami itu ternyata jauh lebih efektif dan sangat efisien. Terbukti, masalah-masalah yang selama ini begitu rumit dirundingkan secara formal, dapat dengan mudah dibicarakan. Semuanya berlangsung begitu hangat dan cair. Salam kami. (*)

Laporan oleh : Ali Mocthar Ngabalin
Source : Fajar Online


Artikel lainnya