15 Jun 2009 09:33:44 WIB
Dari Diskusi "Ambalat Memanas Lagi, Bagaimana Menyikapinya?" (2-Selesai)
MESKI dari segi kekuatan, TNI sangat siap untuk berperang, namun alat utama sistem persenjataan (alutsista) tetap menjadi pertimbangan utama. Apalagi, tuanya alutsista kita dipandang sebagai salah satu pertimbangan Malaysia berani melakukan aksi provokatif. Bagaimana perbandingan alutsista Indonesia dan Malaysia?
"SAYA sangat gerah, kita katanya bangsa yang besar, dan Amerika saja mengakuinya. Namun ironisnya, prajurit kita mati bukan di medan perang, melainkan akibat kecelakaan pesawat,” ungkap anggota Komisi I DPR RI, Ali Mochtar Ngabalin pada diskusi bertema, "Ambalat Memanas Lagi, Bagaimana Menyikapinya?", di lantai 4 Gedung Graha Pena Makassar.
Ali mengaku sangat miris dengan anggaran alutsista yang sangat minim. Padahal mengingat wilayah negara yang luas, pemerintah harus menyiapkan anggaran yang besar. Menurut Ali, pemerintah tak punya alasan untuk tidak mengalokasikan anggaran yang cukup untuk sistem pertahanan kita, mengingat banyaknya pajak yang dipungut di masyarakat.
"Kalau ada pemerintah yang tidak bisa menyiapkan anggaran besar, berhentilah menjadi pemerintah," ujar Ali dengan nada tegas. Lebih lanjut Ali menambahkan, senjata yang dipasang di kapal-kapal perang Indonesia seperti besi tua yang dikumpul plastik dan hanya digunakan untuk menakut-nakuti musuh.
Demikian pula senjata yang dipanggul, lanjut Ali, merupakan senjata yang tak berisi peluru. Ali mengaku sering mengunjungi prajurit TNI di perbatasan Papua dan Papua Nugini. Idealnya, untuk bekal latihan prajurit harus memiliki 203 peluru, namun kenyataannya persediaan peluru untuk latihan hanya enam biji. "Jadi senjata prajurit kita hanya kebanyakan menyalak saja," ujar Ali yang disambut tawa para peserta diskusi.
Demikian pula rumah-rumah prajurit yang menurut Ali, atapnya tembus ke langit. Dalam rapat antardepartemen, Ali mengaku sudah mengusulkan anggaran yang besar untuk ketiga angkatan di TNI. Hanya saja, dalam prosesnya, anggaran tersebut dicoret sana-sini.
Padahal, lanjut Ali, untuk disegani kawan dan lawan, maka pertahanan perlu diperkuat, namun TNI dikorbankan oleh euforia reformasi yang sesat dan menyesatkan. "Kesejahteraan TNI harus diikuti dengan alutsista yang memadai, caranya cari presiden yang bisa mencari uang yang banyak," ujar Ali yang lagi-lagi disambut tawa dan riuh tepuk tangan.
Di komisinya saat ini, Ali mengaku sudah mengusulkan anggaran yang besar untuk suku cadang persenjataan yang akan ditempatkan di 12 titik Pulau Sebatik. Ali mengaku sudah memberi peringatan kepada Menteri Pertahanan Malaysia, Datok Ahmad Zahid Hamidi, untuk melarang kapal perangnya masuk ke wilayah teritorial Indonesia.
Dalam pembicaraannya, Datok Ahmad Zahid Hamidi mengaku sudah memerintahkan pasukannya untuk mengurangi ronda biasa (patroli rutin). "Saya juga sempat melihat melalui monitor, bagaimana mereka memantau perairannya.
Ternyata, kulit kelapa yang hanyut saja bisa dipantau dan diperbesar. Ternyata kita tidak ada apa-apanya dibanding alat yang dimiliki Malaysia. Yang sering berpatroli hanya kapal-kapal abunawas (pengecoh), kalau kita tembaki, maka persejataan canggihnya akan keluar," ujar Ali.
Salah seorang peserta diskusi, Kartono pada kesempatan tersebut menyampaikan, untuk mempertahankan RI, tidak terlalu membutuhkan alutsista yang canggih. Karena pada zaman kemerdekaan, RI dipertahankan tanpa alutsista yang memadai. Kartono juga mengungkapkan, seharusnya tentara bisa dikurangi dan menggalakkan kembali wajib militer.
Dosen Hukum Internasional Unhas, Idris Buyung yang juga menjadi pembicara pada diskusi tersebut mengatakan, Indonesia menerapkan minimum essential force, sehingga kalau terjadi apa-apa, TNI sudah siap.
Intelijen, kata Idris, juga sudah tahu, bahwa kekuatan Indonesia bisa menghadapi Malaysia. Senada dengan itu, Basri Sidehabi mengungkapkan, TNI bekerja berdasarkan doktrin, sehingga kata Basri, alat apapun yang diberikan maka alat itu juga yang akan dipakai. (*)
Source : Fajar Online
Kulit Kelapa Saja Bisa Dimonitor
Oleh : Fajar Online
Dari Diskusi "Ambalat Memanas Lagi, Bagaimana Menyikapinya?" (2-Selesai)
MESKI dari segi kekuatan, TNI sangat siap untuk berperang, namun alat utama sistem persenjataan (alutsista) tetap menjadi pertimbangan utama. Apalagi, tuanya alutsista kita dipandang sebagai salah satu pertimbangan Malaysia berani melakukan aksi provokatif. Bagaimana perbandingan alutsista Indonesia dan Malaysia?
"SAYA sangat gerah, kita katanya bangsa yang besar, dan Amerika saja mengakuinya. Namun ironisnya, prajurit kita mati bukan di medan perang, melainkan akibat kecelakaan pesawat,” ungkap anggota Komisi I DPR RI, Ali Mochtar Ngabalin pada diskusi bertema, "Ambalat Memanas Lagi, Bagaimana Menyikapinya?", di lantai 4 Gedung Graha Pena Makassar.
Ali mengaku sangat miris dengan anggaran alutsista yang sangat minim. Padahal mengingat wilayah negara yang luas, pemerintah harus menyiapkan anggaran yang besar. Menurut Ali, pemerintah tak punya alasan untuk tidak mengalokasikan anggaran yang cukup untuk sistem pertahanan kita, mengingat banyaknya pajak yang dipungut di masyarakat.
"Kalau ada pemerintah yang tidak bisa menyiapkan anggaran besar, berhentilah menjadi pemerintah," ujar Ali dengan nada tegas. Lebih lanjut Ali menambahkan, senjata yang dipasang di kapal-kapal perang Indonesia seperti besi tua yang dikumpul plastik dan hanya digunakan untuk menakut-nakuti musuh.
Demikian pula senjata yang dipanggul, lanjut Ali, merupakan senjata yang tak berisi peluru. Ali mengaku sering mengunjungi prajurit TNI di perbatasan Papua dan Papua Nugini. Idealnya, untuk bekal latihan prajurit harus memiliki 203 peluru, namun kenyataannya persediaan peluru untuk latihan hanya enam biji. "Jadi senjata prajurit kita hanya kebanyakan menyalak saja," ujar Ali yang disambut tawa para peserta diskusi.
Demikian pula rumah-rumah prajurit yang menurut Ali, atapnya tembus ke langit. Dalam rapat antardepartemen, Ali mengaku sudah mengusulkan anggaran yang besar untuk ketiga angkatan di TNI. Hanya saja, dalam prosesnya, anggaran tersebut dicoret sana-sini.
Padahal, lanjut Ali, untuk disegani kawan dan lawan, maka pertahanan perlu diperkuat, namun TNI dikorbankan oleh euforia reformasi yang sesat dan menyesatkan. "Kesejahteraan TNI harus diikuti dengan alutsista yang memadai, caranya cari presiden yang bisa mencari uang yang banyak," ujar Ali yang lagi-lagi disambut tawa dan riuh tepuk tangan.
Di komisinya saat ini, Ali mengaku sudah mengusulkan anggaran yang besar untuk suku cadang persenjataan yang akan ditempatkan di 12 titik Pulau Sebatik. Ali mengaku sudah memberi peringatan kepada Menteri Pertahanan Malaysia, Datok Ahmad Zahid Hamidi, untuk melarang kapal perangnya masuk ke wilayah teritorial Indonesia.
Dalam pembicaraannya, Datok Ahmad Zahid Hamidi mengaku sudah memerintahkan pasukannya untuk mengurangi ronda biasa (patroli rutin). "Saya juga sempat melihat melalui monitor, bagaimana mereka memantau perairannya.
Ternyata, kulit kelapa yang hanyut saja bisa dipantau dan diperbesar. Ternyata kita tidak ada apa-apanya dibanding alat yang dimiliki Malaysia. Yang sering berpatroli hanya kapal-kapal abunawas (pengecoh), kalau kita tembaki, maka persejataan canggihnya akan keluar," ujar Ali.
Salah seorang peserta diskusi, Kartono pada kesempatan tersebut menyampaikan, untuk mempertahankan RI, tidak terlalu membutuhkan alutsista yang canggih. Karena pada zaman kemerdekaan, RI dipertahankan tanpa alutsista yang memadai. Kartono juga mengungkapkan, seharusnya tentara bisa dikurangi dan menggalakkan kembali wajib militer.
Dosen Hukum Internasional Unhas, Idris Buyung yang juga menjadi pembicara pada diskusi tersebut mengatakan, Indonesia menerapkan minimum essential force, sehingga kalau terjadi apa-apa, TNI sudah siap.
Intelijen, kata Idris, juga sudah tahu, bahwa kekuatan Indonesia bisa menghadapi Malaysia. Senada dengan itu, Basri Sidehabi mengungkapkan, TNI bekerja berdasarkan doktrin, sehingga kata Basri, alat apapun yang diberikan maka alat itu juga yang akan dipakai. (*)
Source : Fajar Online
Artikel lainnya
- Nasrudin Zulkarnaen, Pelobi Tingkat Tinggi yang Tewas Penuh Kontroversi
- Massa Serahkan Tuntutan ke Sekwilpres
- Ribuan orang dari Gerakan Indonesia Bersih (GIB) terlibat aksi
- GIB Serukan Mosi Tak Percaya Pada SBY
- Ali Mochtar Ngabalin : BKPRMI Bukan Gerakan Terorisme
- Kelakuan Penyelenggara Negara Khianati Pancasila
- Federasi Timur Raya Dideklarasikan
- Ngabalin Kerahkan Pemuda Masjid
- Program 100 Hari SBY Dipertaruhkan Century
- Ngabalin: 3 Nama Berinisial S-B-Y Harus Bertanggungjawab
- Ngabalin: Ruhut Jangan Asal Tuduh
- Hendak Berunjuk Rasa, Adhie Massardi Lapor Polda
- Ngabalin: Stop Sogok Menyogok
- Ngabalin: Jalin Komunikasi dengan Pemerintah
- Ngabalin: Jangan bermain-main dengan Amanah


