28 Aug 2009 09:45:03 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
JAKARTA, KOMPAS.com — Rombongan keluarga Mohammad Jibril yang dipimpin ayahnya, Abu Jibril, akhirnya ditemui anggota Komisi I DPR, Ali Mochtar Ngabalin, di ruang tamu komisi, Kamis (27/8) sore. Dalam pertemuan tersebut, salah satu hal yang dikeluhkan Abu adalah stigma atau cap yang langsung melekat kepada keluarganya sebagai keluarga teroris.
"Sekarang, saya disebut sebagai bapak teroris dan anak teroris. Kami minta agar pengertian jihad tidak keliru dan kami siap berdebat terbuka dengan siapa saja," kata Abu, yang juga anggota Majelis Mujahidin Indonesia.
Menurut Abu, tindakan pemberantasan terorisme yang dilakukan pihak kepolisian selama ini sudah menimbulkan stigma bagi keluarga. Padahal, putranya yang tengah diperiksa intensif oleh Polri belum tentu seorang teroris. "Tapi dia sudah dituduh sebagai penyandang dana, padahal belum tentu dia teroris," ungkap Abu.
Sementara itu, Ali Mochtar Ngabalin mengatakan, pihaknya akan segera mengatur jadwal pertemuan Komisi I dengan Majelis Mujahidin Indonesia. Menurut Ngabalin, dalam hal ini, masyarakat awam perlu diakomodasi untuk bersuara.
"Mereka tidak bisa bersuara atas apa yang dihadapi di lapangan, atas fitnah yang beredar, termasuk intimidasi. Yang bisa bersuara adalah parlemen karena bisa memanggil Kapolri," ujar Ngabalin yang sebelumnya sudah mengenal Abu Jibril.
Jadwal pertemuan sendiri belum dipastikan karena Komisi I masih disibukkan dengan sejumlah agenda tugas kedewanan.
Keluarga merasa terancam
Abu Jibril juga membeberkan, keluarganya menerima ancaman dan intimidasi saat menolak menandatangani surat penangkapan Mohammad Jibril. Alasan penolakan, ungkap dia, karena terjadi kesalahan prosedur penangkapan.
"Pukul 12 malam tadi, polisi datang mengembalikan barang bukti dan ada surat penangkapan yang diminta ditandatangani. Anak saya, adik Mohammad Jibril, menolak karena kakaknya sudah ditangkap kok baru dikasih surat. Kemudian dipaksa, tapi tetap tidak mau," ungkapnya.
Ancaman mendapat tindak kekerasan, masih pengakuan Jibril, juga diterima saat dirinya menolak menandatangani berkas penggerebekan di rumahnya. "Mereka bilang, apa ustaz mau dengan kekerasan? Saat itu datang 20-30 orang Densus pukul 12 malam, mereka periksa rumah saya sampai pukul 3 pagi," kata Abu. Tindakan tersebut, ujarnya, menimbulkan rasa terancam pada dirinya dan keluarga.
Source : Kompas
Abu Jibril Keberatan Dicap "Bapak Teroris"
Oleh : Kompas
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
JAKARTA, KOMPAS.com — Rombongan keluarga Mohammad Jibril yang dipimpin ayahnya, Abu Jibril, akhirnya ditemui anggota Komisi I DPR, Ali Mochtar Ngabalin, di ruang tamu komisi, Kamis (27/8) sore. Dalam pertemuan tersebut, salah satu hal yang dikeluhkan Abu adalah stigma atau cap yang langsung melekat kepada keluarganya sebagai keluarga teroris."Sekarang, saya disebut sebagai bapak teroris dan anak teroris. Kami minta agar pengertian jihad tidak keliru dan kami siap berdebat terbuka dengan siapa saja," kata Abu, yang juga anggota Majelis Mujahidin Indonesia.
Menurut Abu, tindakan pemberantasan terorisme yang dilakukan pihak kepolisian selama ini sudah menimbulkan stigma bagi keluarga. Padahal, putranya yang tengah diperiksa intensif oleh Polri belum tentu seorang teroris. "Tapi dia sudah dituduh sebagai penyandang dana, padahal belum tentu dia teroris," ungkap Abu.
Sementara itu, Ali Mochtar Ngabalin mengatakan, pihaknya akan segera mengatur jadwal pertemuan Komisi I dengan Majelis Mujahidin Indonesia. Menurut Ngabalin, dalam hal ini, masyarakat awam perlu diakomodasi untuk bersuara.
"Mereka tidak bisa bersuara atas apa yang dihadapi di lapangan, atas fitnah yang beredar, termasuk intimidasi. Yang bisa bersuara adalah parlemen karena bisa memanggil Kapolri," ujar Ngabalin yang sebelumnya sudah mengenal Abu Jibril.
Jadwal pertemuan sendiri belum dipastikan karena Komisi I masih disibukkan dengan sejumlah agenda tugas kedewanan.
Keluarga merasa terancam
Abu Jibril juga membeberkan, keluarganya menerima ancaman dan intimidasi saat menolak menandatangani surat penangkapan Mohammad Jibril. Alasan penolakan, ungkap dia, karena terjadi kesalahan prosedur penangkapan.
"Pukul 12 malam tadi, polisi datang mengembalikan barang bukti dan ada surat penangkapan yang diminta ditandatangani. Anak saya, adik Mohammad Jibril, menolak karena kakaknya sudah ditangkap kok baru dikasih surat. Kemudian dipaksa, tapi tetap tidak mau," ungkapnya.
Ancaman mendapat tindak kekerasan, masih pengakuan Jibril, juga diterima saat dirinya menolak menandatangani berkas penggerebekan di rumahnya. "Mereka bilang, apa ustaz mau dengan kekerasan? Saat itu datang 20-30 orang Densus pukul 12 malam, mereka periksa rumah saya sampai pukul 3 pagi," kata Abu. Tindakan tersebut, ujarnya, menimbulkan rasa terancam pada dirinya dan keluarga.
Source : Kompas
Artikel lainnya
- Nasrudin Zulkarnaen, Pelobi Tingkat Tinggi yang Tewas Penuh Kontroversi
- Massa Serahkan Tuntutan ke Sekwilpres
- Ribuan orang dari Gerakan Indonesia Bersih (GIB) terlibat aksi
- GIB Serukan Mosi Tak Percaya Pada SBY
- Ali Mochtar Ngabalin : BKPRMI Bukan Gerakan Terorisme
- Kelakuan Penyelenggara Negara Khianati Pancasila
- Federasi Timur Raya Dideklarasikan
- Ngabalin Kerahkan Pemuda Masjid
- Program 100 Hari SBY Dipertaruhkan Century
- Ngabalin: 3 Nama Berinisial S-B-Y Harus Bertanggungjawab
- Ngabalin: Ruhut Jangan Asal Tuduh
- Hendak Berunjuk Rasa, Adhie Massardi Lapor Polda
- Ngabalin: Stop Sogok Menyogok
- Ngabalin: Jalin Komunikasi dengan Pemerintah
- Ngabalin: Jangan bermain-main dengan Amanah


